Membahas sosialisasi nilai kerja berkaitan dengan masalh kerja dan nilai. Kerja mempunyai beberapa pengertian, diantaranya menyatakan ciri-ciri kerja itu meliputi: (1) para pelaku mengeluarkan energi, (2) para pelaku terjalin dalam interaksi sosial dan mendapat status, (3) para pelaku memberi sumbangan dalam produksi barang dan jasa, (4) para pelaku mendapatkan panghasilan cash dan natura, dan (5) para pelaku mendapatkan hasil yang mempunyai nilai waktu[1]. Kerja pada umumnya dikaitkan dengan konsepsi kerja  produktif-reproduktif; kerja domestik-publik; dan kerja upahan-bukan upahan[2]. Kerja yang di maksud dalam penelitian ini aktivitas yan dilakukan oleh anggota rumah tangga dalam rangka memenuhi kebutuhan rumah tangga baik bersifat fisik, mental maupun sosial dengan imbalan berupa insentif ekonomi.

Sementara itu, nilai merupakan pilihan moral yang berkaitan dengan apa yang dianggap baik dan buruk-pantas atau tidak dan dijadikan pedoman bertingkah laku. Dengan demikian nilai kerja merupakan persepsi dan penghargaan terhadap aktivitas yang menghasilkan sesuatu bentuk materi maupun non-materi yang memberi kepuasan bagi keluarga buruh karena tujuan tercapai[3].

Setiap individu dalam kehidupan masyarakat selalu mengalami proses sosialisasi nilai yakni proses dimana seseorang mempelajari nilai dan aturan yang terdapat dalam masyarakat. Sosialisasi di berbagai strata amat berbeda-beda pada setiap keluarga, tergantung pada pengalaman orang tua dimasa lalu. Sosialisasi dalam rumah tangga biasanya berkaitan dengan posisi rumah tangga tersebut dalam struktur sosial yang ada. Sosialisasi dalam rumah tangga lapisan bawah berbeda dengan rumah tangga yang berasal dari lapisan atas[4]. Orang tua yan berasal dari kelas menengah cenderung menekankan kepada anak-anak tentang pentingnya prestasi. Sebaliknya, orang tua dari kelas rendah lebih menekankan kepada anak-anak mereka tentang bagaiman upaya memenuhi kebutuhan hidup sesegera mungkin. Keluarga yang berasal dari kelas rendah memiliki kecenderungan gagal memenuho fungsi keluarga secara memadai dan karena itu mereka mensosialisasikan anak-anak mereka untuk meneruskan pola ketidakmampuan dan ketergantungan.

Sosialisasi adalah sebuah proses kebuyaan sebagai sistem nilai-nilai, sikap dan tingkah laku masyarakat[5]. Pada umumnya orang tua meneruskan nilai-nilai sosial budaya kepada anak-anaknya dan mereka menerapkannya, sebab tidak ada orang tua yang memiliki citra yang bertentangan dengan pandangan hidup mereka terhadap anak-anaknya. Sosialisasi adalah  proses yang harus dilalui manusia untuk memperoleh nilai-nilai dan pengetahuan mengenai kelompoknya dan belajar mengenai peran sosialnya yang cocok dengan kedudukannya. Termasuk dalam di dalamnya adalah sosialisasi nilai kerja perempuan dan laki-laki, dimana oerempuan diutamakan untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan laki-laki bekerja untuk mendapat upah[6]. Akibat sosialisasi kerja berdasar gender mengakibatkan perempuan sulit mendapat jabatan tinggi[7].

Soekanto menyatakan bahwa dalam kehidupan sehari-hari ada kecenderungan bahwa pola pendidikan keluarga yang pernah dialami orang tua, diteruskan pada anak-anaknya[8]. Pola pendidikan ini biasanya didukung oleh kerabat yang menganggap bahwa pola itulah yang terbaik dan harus dilestarikan. Kebanyakan orang tua, generasai-generasi terdahulu dan kerabat-kerabat keluarga besarnya tidak berpendidikan formal. Pola pendidikan yang diterapkan kepada anaknya, sama dengan pola yang mereka terima terima dahulu. Orang tua maupun anak menganggap, sekolah tidak memiliki manfaat secara langsung, sehingga kegiatan belajar di sekolah tidak begitu menarik.

Goode menyatakan seorang anak menemukan proses sosialisasi paling awal melalui keluarga[9]. Sosialisasi primer dalam keluarga, menghasilkan basic personality structure, dimana pola orientasi nilai-nilai yang ditanamkan pada seseorang akan sulit diubah sepanjang kehidupannya. Dalam konteks ini, seorang anak hanya sebagai role playing. Artinya, anak hanya memainkan peran yang diberikan pada saat sosialisasi primer, karena proses sosialisasi biasanya ditandai dengan enkulturasi atau proses pembudayaan, yakni mempelajari kebudayaan yang dimiliki oleh kelompok. Seperti mempelajari ada-istiadat, bahasa, kesenian, kepercayaan, dan sistem kemasyarakatan. Proses sosialisasi berawal dari keluarga meluas ke teman sepermainan, sekolah, dan lingkungan kerja.

Hal yang sama juga ditemukan oleh Geertz dalam penelitiannya pada keluarga Jawa, misalnya memperlihatkan sejak kecil ana-anak sudah dilibatkan bekerja baik di sektor domestik maupun sektor publik, seperti bekerja di pertanian dan sektor informal untuk membantu pekerjaan orang tua[10]. Bagi keluaraga Jawa anak bekerja dalam usia yang …

Kegiatan usaha tani merupakan kegiatan dimana seorang petani, sebuah keluarga tani, atau badan usaha bercocok tanam atau memelihara ternak pada sebidang tanah (Mosher,1987). Menjalankan usaha pertanian adalah perkara yang tidaklah mudah karena dibutuhkan  keterampilan dan  keuletan  untuk menjalankan usahatani tersebut. Dalam melaksanakan usaha pertanian terdapat beberapa faktor yang menentukan keberhasilan usahatani, diantaranya alam, biologis, fisik, dan sosial-ekonomi (Mosher, 1987).

Faktor-faktor penentu di atas juga merupakan faktor yang menjadi masalah dalam kegiatan usaha tani. Dalam hal ini, saya lebih menyoroti pada faktor sosial-ekonomi. Menurut Soekarwati (2002), kendala sosial-ekonomi adalah kendala yang meliputi kurangnya biaya usahatani, harga produksi, kebiasaan dan sikap, kurangnya pengetahuan, tingkat pendidikan petani, adanya faktor ketidakpastian, serta resiko berusahatani.

Menurut Ekawati S. Wahyuni dan Pudji Mulyono (2007) “Permasalahan adalah sesuatu yang masih dicari jawabannya/pemecahannya dan  tidak ada pihak yang tahu jawabannya”. Permasalahan yang disebabkan oleh birokrasi atau peraturan resmi, maupun kebijakan yang menghambat seseorang dalam memanfaatkan sumberdaya dan mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan produktivitas diistilahkan dengan  permasalahan  struktural (Suhato, 2005). Maka Pearse (1975) dalam Soetomo (1997) mengatakan bahwa permasalahan petani tergolong permasalahan struktural karena petani merupakan kelompok marginal. Sistem sosial juga meletakkan petani sebagai elemen yang dibuat bergantung dan tak berdaya sepenuhnya. Pilhan yang akan dilakukan oleh petani tidak sepenuhnya merupakan keputusan dirinya, melainkan pengaruh dari pihak luar petani.

Kelompok marginal dalam arti luas diartikan sebagai kelompok yang mengalami proses dimana hubungan-hubungan kekuatan antar manusia berubah dengan suatu cara sehingga salah satu kelompok makin terputus dari akses ke sumberdaya vital. Kelompok yang makin terputus dari akses tersebut adalah petani. Mereka disulitkan untuk mendapatkan dana kredit guna usahataninya, malah tak jarang lahan pertanian mereka dialihfungsikan sehingga mereka tidak lagi memiliki lahan pertanian sendiri (menjadi petani garap).

Permalasahan ini menjadi penyebab utama yang mengakibatkan para petani hingga saat ini masih dilanda kemiskinan dan ketidaksejahteraan. Mengacu pada keadaan yang terjadi dan beberapa tulisan, kemiskinan merupakan ketidakmampuan seseorang atau sekelompok untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Kemiskinan merupakan fenomena sosial di negara kita, kemiskinan juga merupaka permasalahan yang multi dimensional. Artinya ada beragam pendapat dan melalui berbagai macam dimensi dalam mendefinisikan makna kemiskinan.

Kemiskinan dapat dialami setiap level kehidupan, mulai dari level individu hingga level pemerintah (Syahyuti 2006). Level-level ini juga menjadi faktor yang menpengaruhi kemiskinan. Misal dari level individu yaitu rendahnya kualitas SDM yang dimiliki  karena tingkat pendidikan yang rendah dan kesehatan yang buruk. Dari level rumahtangga yaitu kepala rumahtangga yang usianya terlalu muda atau memiliki banyak anggota keluarga. Sedangkan dari level masyarakat yaitu struktur dalam sosial masyarakat yang mengakibatkan terjadinya ketidakmerataan dalam distribusi pendapatan. Terakhir dari level pemerintah seperti kebijakan pemerintah yang tidak adil dan mengandung unsur manipulasi.

Pada umumnya ukuran kemiskinan seseorang atau sekelompok dapat dilihat berdasarkan kecukupan pangannya (protein dan kalori). Prof. Dr. Ir. Sajogyo  mengemukakan bahwa golongan yang masih tertinggal di taraf kurang pangan mengkonsumsi rata-rata < 1.900 kalori dan 40.0 gram protein/orang/hari. Sedangkan menurut Golden Standart ukuran miskin adalah apabila konsumsi kalori seseorang < 70% batas normalnya yaitu 2.300 kalori/orang/hari.

Sejatinya ilmu pengetahuan digunakan untuk mempermudah kegiatan manusia dalam melakukan aktifitas dan kegiatannya. Ilmu penegatahuan merupakan produk dari kebudayaan enlightenment, pencerahan. Ilmu penetahuan digunakan sebagai sarana mempermudah manusia mencapai dan mendapatkan tujuan hidupnya. Selain itu, ilmu pengetahuan juga berfungsi sebagai fasilitator. Fasilitator yang berupa sandaran untuk melakukan sesuatu. Karena ilmu pengetahuan adalah jembatan bagi manusia untuk mempermudah mendapatkan keinginannya dan manusia dapat berbuat banyak. Segala kegiatan ada konsekuensinya, begitu juga dengan kegiatan dalam perkembangan ilmu pengetahun ini. Karena sekarang, kita harus menyasuaikan diri dengan kemajuan ilmu, bukan ilmu yang berkembang seiring perkembangan manusia. Ilmu pengetahuan  banyak  melupakan faktor manusia. Selain menimbulkan gejala dehumanisme juga mengubah hakikat kemanusiaan. Karena itulah peran dari para ilmuan dalam menyikapi hal ini sangat dibutuhkan.

Peran ilmuwan itu antara lain, mereka harus peka terhadap perubahan sosial dan berupaya mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut. Mereka juga bertanggung jawab terhadap hasil penelaahan penelitian agar bermanfaaat bagi masyarakat.  Teori adanya komunikasi antar warga dapat menjadi acuan untuk menerapakan masyarakat yang bebas juga dapat diterapkan. Seorang ilmuan harus membuka diri pada fakta-fakta baru dan mencoba berusaha memahaminya demi kebahagiaan umat manusia. Meraka juga harus mempunyai rasa iba yang merupakan implikasi dari rasa cinta yaitu berusaha untuk benar-benar memahami penderitaan agar mampu menyembuhkannya.

Ilmuwan harus bisa melibatkan diri, selain dalam proses spesialisasi juga dalam seluruh proses self-understanding masyarakat. Dalam rangka ini ilmuwan harus dapat mengintegrasikan kebudayaan teknik dengan kepribadian kultural. Tanggung jawab yang utama dari seorang ilmuan bagi dirinya sendiri, ilmuwan lain, dan masyarakat  adalah menjamin kebenaran dan keterandalan pernyataaan-pernyataan ilmiah yang dibuatanya dan dapat dibuat oleh ilmuwan yang lainnya. Sebagai seorang yang dianggap lebih oleh masyarakat bahkan ilmuwan lain tidak boleh memberikan atau memalsukan data. Mereka hanya memberikan pengetahuan sumbangan pengetahuan baru yang benar yang sudah ada walaupun ada banyak tekanan untuk tidak melakukan itu, karena tanggung jawab batiniahnya adalah memerangi ketidaktahuan, prasangka, dan takhayul di kalangan manusia dalam alam semesta ini.

Context of discovery adalah menyangkut dimana ilmu pengetahuan itu ditemukan. Ilmu pengetahuan selalu ditemukan dan berkembang dalam konteks waktu dan tempat tertentu. Ilmu pengetahuan tidak muncul  begitu saja, ada hal yang melahirkannya. Ada perasaan, keinginan, kepentingan pribadi, sosial, budaya, politik yang ikut mewarnai dan mendorong penelitian dan kegiatan ilmiah. Hubungan antara tanggung jawab ilmuwan dan COD ini adalah kadang kala para ilmuwan mengembangkan penetahuannya bukan semata-mata hanya untuk ilmu itu sendiri, tetapi ada hal lain yang menyebabkan adanya ilmu pengetahuan itu. Salah satunya adalah karena keprihatinan para ilmuwan terhadap perkembangan kehidupan manusia. Mereka mengumpulkan masalah yang dihadapi masyarakat dan berupaya untuk mencari solusi dari permasalahan itu. Hal ini terjadi karena pada hakikatnya, ilmu pengetahuan itu berkembang dalam interaksi dan ketertarikan dengan semua nilai dan semua hal lain diluar pengetahuan itu. Karena sadanya kesamaan sosial, perasaan dan lain sebagainya inilah yang kemudian melahirkan ilmu pengetahuan baru yang menyangkut tanggung jawab seorang yang mempunyai ilmu lebih dari yang lainnya.

Context of Justification merupakan konteks pengujian ilmiah terhadap hasil penelitian dan kegiatan alamiah berdasarkan kategori dan kriteria yang murni ilmiah. Nilai kebenaran adalah yang satu-satunya nilai yang berlaku dan dipertimbangakan. Hubungan antara COJ dengan tanggung jawab ilmuwan adalah, hakikatnya konsekuensi dalam kegiatan penelitian harus mempertimbangkan beberapa hal, antara lain rasionalitas atau berkaitan dengan nilai kebenaran, berkaitan dengan ilmu-ilmu empiris, penilaian hasil kegiatan ilmiah hanya didasarkan pada keberhasilan dan kegagalan empiris. Dilihat dari dua kriteria tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam memberikan pengetahuan kepada khalayak umum, para ilmuwan harus seobjektif mungkin sehingga dapat dipertanggung jawabkan.

Yang harus menjadi fokus utama dari seorang ilmuwan dalam menetapakan konteks mana yang penting dan harus diperhatikan adalah dengan melihat beberapa aspek dari konsekuensi setiap konteks. Namun yang paling harus diperhatikan oleh ilmuwan adalah  context of discovery karena dalam konteks ini, diperhitungkan apakah ilmu itu berguna atau tidak. Sedangkan dalam context of justification, segala kriteria kebenarannya tidak bisa dibantah dan dianggap benar.